 |
Mulyana W Kusumah |
Setelah
merampungkan pendidikannya di SMP Negeri 3 Bogor, Mulyana kemudian melanjutkan
sekolah di SMA Negeri 1 Bogor.
Di SMA, Mulyana dikenal sebagai orang yang pendiam, tidak banyak bicara dan cenderung pemalu. Walau demikian dalam hal persahabatan Mulyana dikenal sebagai orang
yang supel, pandai berteman dan sangat disenangi oleh orang-orang yang
mengenalnya. Dan di SMA pun, Mulyana dikenal sebagai orang yang rakus membaca.
Maka tak heran, nilai-nilai yang diperolehnya di SMA tertinggi di kelasnya.
Bahkan hingga lulus tak ada yang mengungguli nilai-nilai yang diperoleh oleh
Mulyana.
Ketika matahari
beranjak naik di ufuk Timur, Mulyana berangkat ke sekolahnya dengan berjalan
kaki. Pada waktu itu penjurusan di SMA ada empat yaitu Sosial, Budaya, Ilmu
Pasti, dan Ilmu Alam. Sedangkan Mulyana sendiri masuk di kelas ilmu sosial.
Selain aktif mengikuti pelajaran di sekolah, Mulyana juga aktif di berbagai kegiatan
organisasi yang ada di sekolah baik organisasi intra maupun ekstra. Organisasi
intra sekolah dikenal dengan nama KSMA (Keluarga Sekolah Menengah Atas) yang
sekarang dikenal dengan OSIS. Sedangkan organisasi ekstra pada masa itu ada
tiga yaitu PPII (Persatuan Pelajar Islam Indonesia), GSNI (Gerakan Siswa
Nasional Indonesia), dan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama).
Namun demikian
Mulyana memilih tidak masuk sebagai anggota maupun pengurus di salah satu
organisasi tersebut. Hal itu dilakukan karena Mulyana tidak mau terjebak pada
persaingan di antara organisasi-organisasi yang ada di sekolahnya. Karena pada
waktu itu dengan banyaknya organisasi yang ada di sekolahnya, seringkali
terjadi pergesekan dan persaingan yang terkadang justru menimbulkan pengkotak-kotakan
dalam pertemanan. Mulyana lebih memilih netral dan merangkul semuanya. Ketika
salah satu organisasi itu mengundang dalam satu acara dipastikan Mulyana akan
selalu datang menghadirinya. Di sinilah kepekaan Mulyana dalam hal tidak
memihak pada salah satu kelompok terlihat. Ia lebih nyaman untuk berdiri di
semua organisasi yang ada tanpa melukai salah satu organisasi yang ada di
sekolahnya.
Sudah menjadi
hal yang lazim, masa SMA adalah masa terindah di semua jenjang pendidikan yang
ada. Kekompakan dan rekatnya persahabatan biasanya bisa ditemukan ketika
seseorang sedang mengenyam pendidikan SMA. Loyalitas dan kebutuhan untuk saling
mengikat satu sama lain terjadi. Pun demikian yang dialami oleh Mulyana. Di
kelasnya ia menjalin persahabatan yang akrab dengan tujuh teman sekelasnya.
Lalu pada suatu waktu, saat Mulyana berkumpul dengan ketujuh temannya itu,
tercetus ide dalam benak Mulyana untuk menamakan pertemanannya itu dengan
sebutan “DELAVANO”. Yang artinya delapan orang. Mereka adalah Mulyana sendiri,
sedangkan yang lainnya adalah Holid, Sudarma, Dadang, Ayong, Afid, Yuan, dan
Djakaria.
DELAVANO adalah
besutan pertama Mulyana dalam melahirkan sebuah organisasi. Misi organisasi
tersebut memang sederhana. Hanya untuk wadah saling curhat di antara delapan
orang yang menjadi anggotanya. Aktivitasnya hanya bermain dan berkumpul setelah
lelah mengikuti pelajaran di sekolah. Namun demikian, adanya DELAVANO itu
sangat terasa manfaatnya, karena segala persoalan yang dihadapi oleh satu
anggotanya bisa terpecahkan. Mereka saling menopang dan membantu satu sama lainnya.
Riak loyalitas dan kehangatan terasa sekali di antara mereka. Mereka saling
berkunjung ke rumah masing-masing. Walaupun rumah salah satu di antara mereka
sangat jauh. Ketika ada sebuah komando untuk berkumpul di salah satu rumah
anggota group DELAVANO, bisa dipastikan semuanya akan datang walau harus
menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Group kecil
“DELAVANO” ini merupakan salah satu bukti kecerdasan Mulyana dalam
mengorganisir massa. Walaupun hanya delapan orang, Mulyana mulai membangun
komitmen dan loyalitas dalam berorganisasi. Mungkin hal itu terlihat kecil tapi
dengan adanya sosok Mulyana, organisasi ini mampu mengayomi dan memberi solusi
bagi anggota-anggotanya. Mereka tak hanya mengenal secara personal saja, tapi
juga saling mengenal keluarga masing-masing. Persahabatan group “DELAVANO”
manfaatnya ternyata tidak hanya dirasakan dikala masih SMA saja. Namun ketika
mereka sudah beranjak dewasa dan berkeluarga, mereka masih saling membantu satu
sama lain.
Ide-ide yang
muncul dari Mulyana selalu berbahaya. Berbahaya karena seringkali harus
direalisasikan. Tak hanya berhenti pada tataran ide tapi selalu bersambung pada
tataran praksis. Group “DELAVANO” salah satu contohnya. Ide brilian yang
tiba-tiba menyeruak dalam benak Mulyana tak lepas dari kecerdasan dan
kebiasaannya yang tiada hari tanpa membaca. Segala macam buku dilahapnya. Tak
heran ketika berkumpul, bisa dipastikan dalam tataran ide dan analisa Mulyana
selalu menonjol di antara yang lainnya.
Namun demikian
dalam urusan percintaan masa SMA, Mulyana tak sempat mengecap manisnya. Menurut
cerita Holid temannya, hal itu dikarenakan sifatnya yang pendiam dan pemalu.
Di hadapan wanita Mulyana akan lebih memilih menundukkan pandangan karena malu,
sedangkan mulut hanya terkatup rapat, tak bisa berkata-kata karena di
kerongkongan seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Setelah
menempuh pendidikan di SMA selama tiga tahun, pada tahun 1966 Mulyana lulus
dari SMA Negeri 1 Bogor.
Setelah lulus SMA, dari kedelapan orang yang tergabung dalam “DELAVANO” ada yang
kemudian melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah, ada juga yang lebih
memilih untuk langsung masuk dunia kerja. Hal itu dikarenakan perbedaan
kemampuan ekonomi orang tua masing-masing. Yang beruntung melanjutkan kuliah ada
empat orang. Mulyana, Afid, dan Yuan, ketiganya melanjutkan di Universitas
Indonesia (UI). Yang terakhir Holid, awalnya masuk di Universitas Padjadjaran
(UNPAD) Bandung, namun belakangan pindah kuliah di Universitas Bogor (UNBO).