https://pustokum.blogspot.com/2016/07/mr-s-budhyarto-martoatmodjo-pendiri-ugm.html
Hari
itu, tepatnya 16 November 1898 tangis bayi pecah di Keraton Kasunanan,
kota Solo.
Entah dari sudut ruang mana suara tangis itu berasal.
Seorang
ibu, bernama Bardijah tampak menyunggingkan senyum lembutnya. Peluh keringat
membasahi tubuhnya. Setelah ia berjuang dalam proses persalinan yang
melelahkan. Beban berat yang ia rasakan selama sembilan bulan lamanya, hilang
seketika. Rona-rona bahagia memendar di setiap sudut ruangan itu. Semua orang
di ruangan persalinan itu gembira menyambut bayi yang baru lahir itu.
Dari
sudut lain, seorang guru Keraton tampak datang tergopoh-gopoh menuju asal suara
tangis bayi. Ia pun dengan segera masuk ke ruangan itu. Dengan senyum, ia
memandang wajah istrinya dan bayi laki-laki mungil yang sedang menangis itu.
Sang guru Keraton itu bernama Bukarjo Martoatmodjo, suami
Bardijah dan ayah dari bayi laki-laki itu.
Bukarjo
dan Bardijah saling berpandangan sejenak. Lalu tanpa dikomando, mereka berdua
memandang bayi laki-laki mungil itu dengan lembut. Kebahagiaan meliputi hati
keduanya. Sedang wajah mereka berdua tampak sumringah. Bayi laki-laki itu lahir
dengan selamat. Bayi laki-laki itu kemudian diberi nama Raden S. Budhyarto
Martoatmodjo.
Bayi
laki-laki itu lahir di sebuah Keraton.
Seperti menandakan sesuatu. Ia bukan anak raja, tapi ia masih ada hubungan kerabat
dengan keluarga Keraton. Ayahnya, Bukarjo, secara nasab bersambung dengan Raden
Tumenggung Ario Suronegoro.
Kalau dirunut lagi ke atas, masih memiliki trah dengan raja Demak
Bintoro. Karena masih bersambung dengan keluarga Keraton,
di depan nama bayi itu tersemat gelar Raden.
Sedang
kakak-kakak dari bayi laki-laki itu pun berkerumun melihat adiknya yang baru
lahir. Mereka yang masih kecil-kecil juga tampak bahagia melihat ayah ibunya
bahagia. Pandangan mata mereka seolah enggan beranjak melihat bayi yang baru
lahir itu. Mereka mempunyai adik baru.
Mereka
adalah Raden Ajeng Kardinah Martoatmodjo yang tertua. Disusul oleh Raden
Boentaran Martoatmodjo.
Lalu yang terakhir adalah Raden Soepadio Martoatmodjo.
Sebenarnya Budhyarto masih mempunyai kakak satu lagi, tapi ia sudah meninggal
dunia.
Bukarjo
Martoatmodjo, ayah Budhyarto, adalah seorang guru Keraton Kasunanan. Awalnya,
ia tinggal di daerah Purworejo. Anaknya, Boentaran lahir di Purworejo.
Sedangkan anaknya yang lain, Soepadio, lahir di Solo. Kepindahannya ke Keraton
membawa serta keluarganya. Termasuk istrinya, Bardijah. Sebuah kehormatan bagi
Bukarjo diminta oleh pihak Kasunanan Surakarta untuk menjadi guru di sana.
Tidak
diketahui dengan pasti Bukarjo sebagai guru apa.
Tapi yang pasti, ia sempat tinggal di keraton beserta keluarganya. Hal ini
membuat Budhyarto yang masih bayi itu, selama tahun pertama kehidupannya berada
di lingkungan keraton. Budhyarto sempat merasakan suasana kehidupan di salah
satu pusat kekuasaan di Jawa. Sebuah kesempatan yang tak bisa didapatkan oleh
umumnya orang waktu itu.
Saat
Budhyarto lahir, raja yang memerintah di keraton Kasunanan Surakarta adalah
Paku Buwana X putra dari Paku Buwana IX. Paku Buwana X diangkat menjadi raja
pada tahun 1893 atau enam tahun sebelum Budhyarto lahir. Ia memerintah sampai
tahun 1939. Namun pemerintahan kerajaan waktu itu berada di bawah kekuasaan
pemerintah Hindia Belanda. Segala kebijakan raja harus melalui persetujuan
Belanda.
Namun,
pada tahun 1899, atau setahun setelah lahirnya Budhyarto, di Negeri Belanda
sedang ramai memperbincangkan soal nasib Hindia Belanda. Politik kolonial
Belanda sedang menuai protes. Angin segar sedang berpihak kepada Hindia
Belanda. Kritik pedas dilontarkan oleh seorang pengacara sekaligus mantan
pejabat peradilan kolonial, juga anggota parlemen Negeri Belanda. Dia adalah C.
Th. Van Deventer.
C.
Th. Van Deventer menulis dengan judul “Utang Budi”. Dalam tulisannya, ia
melemparkan kritikan pedas kepada pemerintah negeri Belanda. Ia mengingatkan
bahwa bangsa Belanda berutang kepada Hindia Belanda oleh keuntungan-keuntungan
yang diperolehnya selama dasawarsa-dasawarsa yang lalu. Tulisannya
itu membuat pemerintah negeri Belanda berpikir ulang dalam memperlakukan Hindia
Belanda.
Desakan
yang dilakukan C. Th. Van Deventer dan orang-orang Belanda yang sepaham
dengannya menuai hasil.
Ratu Wilhelmina, pada tahun 1901, saat pidato penobatannya sebagai Ratu
Belanda, ia mengumandangkan zaman baru dalam politik kolonial, mengamini apa
yang dikemukana oleh C. Th. Van Deventer dengan sebutan politik etis.
Apa
yang dilakukan oleh C. Th. Van Deventer dan kawan-kawan sebenarnya kelanjutan
dari apa yang sudah dimulai sebelumnya. Penentangan ini sudah ada dari
tersebarnya karya sastra Roman berjudul Max Hevelaar tahun 1860. Roman
yang ditulis oleh Multatuli ini, berisi tentang penentangan terhadap politik
pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang melampaui batas.
Pemerintah
Hindia Belanda sebagai kepanjangan tangan negeri Belanda memang masih kuat
pengaruhnya. Termasuk di lingkungan keraton Surakarta di mana Budhyarto lahir.
Tapi karena pengaruh perubahan politik kolonial itu, pemerintah Hindia Belanda mulai
memperhatikan soal kesejahteraan penduduk Hindia Belanda, termasuk soal
pendidikan keluarga keraton.
Pada
tanggal 4 Juni 1903, Sekretaris kelas I melayangkan surat kepada Direktur
Pendidikan Agama dan Kerajinan yaitu J.H. Abendanon. Dalam suratnya itu, ia
menyarankan supaya para raja dapat memberikan pendidikan yang diperlukan kepada
putra-putranya. Dan dalam hal ini, pemerintah Hindia Belanda harus memberikan
bantuan.
Lalu,
J.H. Abendanon mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal waktu itu yaitu Rooseboom
pada tanggal 25 November 1903. J.H. Abendanon melaporkan jawaban dari surat
sekretaris pemerintah kelas I itu. Dalam surat itu, salah satunya disebutkan
bahwa Kasunanan Surakarta termasuk yang menanggapi dengan positif ide tersebut.
Bahkan, tanggapan itu berasal dari prakarsa Susuhunan sendiri.
Mungkin,
situasi perubahan politik kolonial itu tak begitu digubris oleh orang-orang
yang tinggal di keraton Surakarta. Mereka hanya menjalankan tugas-tugas yang
diberikan. Seperti Bukarjo, tiap hari menjalankan tugasnya sebagai guru
keraton.
Apalagi
sejak Bukarjo mendapatkan permata hatinya yang baru, hari-harinya dipenuhi oleh
keceriaan. Ia tak pernah luput mengamati pertumbuhan anaknya dari detik demi
detik. Tangisnya, rengeknya, di malam yang gelap tak membuat Bukarjo jenuh.
Dengan sigap ia bangun dan menenangkan anaknya itu. Sambil membangunkan istrinya
yang sedang tidur pulas setelah seharian kelelahan mengurus Budhyarto.
Senyum
dan tawa Budhyarto yang masih kecil itu selalu ditunggu. Sesekali, ketika waktu
senggang, Bukarjo dengan lembut menggendongnya. Menimang-nimangnya di bawah
atap sudut keraton. Sambil bercanda dengan anak-anaknya yang lain, kakak-kakak
Budhyarto.
Tapi,
kegembiraan Bukarjo tak berlangsung lama. Saat Budhyarto menginjak usia
setahun, Bukarjo terserang penyakit tipes. Karena
penyakitnya itu, ia tak lagi bisa membobong anaknya yang sedang beranjak usia
setahun itu. Ia terbaring lemas di atas ranjang dengan wajah sendu. Aktifitas
mengajarnya sebagai guru keraton pun terhenti.
Bardijah,
ibu Budhyarto, dengan telaten mengurus suaminya. Di wajahnya terlukis
sedih. Ketika ia melihat suaminya terbaring sakit di ranjang. Sesekali ia
memandang anaknya yang masih kecil itu. Kedua matanya tampak sembab, berkaca-kaca,
air matanya seperti mau meleleh. Tapi, ia tahan.
Saat
itu dokter belum sebanyak sekarang ini. Mungkin waktu itu Bukarjo, ayah
Budhyarto, ditangani oleh tabib keraton. Namun, seiring bertambahnya hari
penyakit tipes yang diderita Bukarjo bertambah parah. Takdir tak bisa ditolak.
Ternyata penyakit tipes Bukarjo itu mengantarkannya untuk menghadap kepada
Tuhan. Bukarjo menghembuskan nafas terakhirnya di usia sangat muda, 30 tahun.
Bukarjo
tak lagi bisa melihat anaknya, Budhyarto, yang sedang bertumbuh. Umurnya
ditakdirkan Tuhan hanya sampai pada usia 30 tahun. Usia yang begitu muda.
Sedangkan Budhyarto, tak bisa
lagi bergelantungan di sela-sela kaki sang ayah. Karena ayahnya, telah pergi
untuk selamanya.
Bardijah,
istrinya, yang selalu setia menemani di sampingnya, tak bisa lagi membendung
air matanya. Tangisnya lirih, sesenggukan, menghantarkan kepergian suaminya
menghadap Sang Pencipta. Budhyarto yang saat itu baru berusia setahun, belum
tahu menahu kalau ayahnya telah pergi untuk selamanya. Ketika tahu ibunya
menangis, ia pun hanya ikut menangis di pelukan ibunya.
Mendung
pekat menyelimuti hati Bardijah. Ia telah menjadi seorang janda. Suaminya
meninggalkannya begitu cepat. Padahal anak-anaknya masih kecil-kecil, belum beranjak
dewasa. Terbayang olehnya, jalan terjal membesarkan keempat anaknya seorang
diri, tanpa ada suami yang membantu di sisinya.
Setelah
suaminya wafat, Bardijah pun sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk terus
bertempat tinggal di lingkungan keraton. Karena ia tinggal di keraton sebab
mengikuti suaminya. Ia dan anak-anaknya pun akhirnya meninggalkan keraton
kasunanan Surakarta menuju Purworejo. Tempat di mana ia pernah tinggal.
Kesedihan
yang menyelimuti hati Bardijah mulai hilang. Saat melihat anak-anaknya yang
masih kecil, terutama Budhyarto yang masih umur setahun, semangatnya kembali menyala.
Ia harus tetap tegar. Karena anak-anaknya masih membutuhkan kasih sayangnya. Ia
harus bertahan untuk membesarkan anak-anaknya dan memberikan pendidikan yang
terbaik untuk mereka.
Anaknya
yang pertama, Kardinah, sepeninggal ayahnya, ketika ibunya mencari nafkah untuk
mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan adik-adiknya, sebagai anak perempuan mbarep,
ia yang akan menggantikan tugas ibunya mengasuh mereka. Di usia yang begitu
muda, Kardinah akan memposisikan diri sebagai seorang ibu. Mengasuh ketiga
adiknya, Boentaran, Soepadio, dan Budhyarto.
Ketiga
adik Kardinah masih kecil-kecil. Boentaran yang tertua setelahnya, baru berusia
3 tahunan.
Sedangkan Soepadio sekitar usia 2 tahunan.
Budhyarto, yang termuda dan terkecil baru menginjak usia 1 tahun. Rasa sedih pun
hinggap dalam benak Kardinah, saat melihat ketiga adiknya yang masih
kecil-kecil itu. Tapi sebagai anak yang tertua, ia harus tetap tegar dan siap menanggung
beban orang dewasa.
Bardijah, sebagai seorang mendiang istri guru keraton, ia tahu betul pentingnya
pendidikan. Dalam benaknya, ia bertekad, anak-anaknya itu harus mengenyam
pendidikan. Masa depan mereka harus dipersiapkan sejak awal melalui pendidikan.
Karena hanya dengan pendidikan, mereka bisa berguna untuk bangsa dan kaumnya
yang sedang terjajah. Bagaimana pun caranya, anaknya harus sekolah. Begitu
tekad Bardijah untuk anak-anak tercintanya
oleh : Ibnu Mufti (Peneliti Pustokum)